My Writings. My Thoughts.

Tragedi Angelina Jo"ntor"lie

At » 04.40 // 0 Comments »


CAUTION:
DON'T TRY THIS AT HOME
(kecuali dengan awasan penuh dari orang tua. Tapi tetep, lebih baek jangan)

Sebagai pengagum Si Hidung Sempurna--Mr. Hugh Jackman a.k.a. Wolverine"-- pasti bakal memaksimalkan setiap kesempatan buat mengabadikan momen-momen penampilannya di otak kita toh. Apalagi dengan adanya channel khusus movie (via tv kabel), wah makin dimanjain aja rasanya, TANPA ADVERTISMENT! Tampah sip ae..!

Alkisah, sore itu pas banget buat minum teh. Kebetulan masih ada teh nganggur dalam gelas piala ukuran medium. Pas banget toh, minum teh, ditemani aksi Mr. Jackman di salah satu filmnya. Itulah yang membuatku tak juga beranjak dari depan tv, walaupun gelasku sudah kosong. Rasanya beraat banget, jalan beberapa meter ke dapur. Dilain sisi, aku nggak akan meletakkan gelas itu di dekatku, soalnya, kalo' ibuk ato babe-ku liat, pasti langsung diomelin kayak gini,
"..Hayo! Gelas ditaruh sembarangan! Ntar pecah! ayo, Ndang dibalekno! (baca:cepetan dikembalikan)."

Maka dari itu, gelasnya tak genggem aja terus. Tapi lama kelamaan tanganku bosen juga. Nah, berpindahlah mulut gelas kosong tadi ke mulutku Pernah denger istilah kop nggak? Ya pokoknya peristiwa semacam itulah yang terjadi, aku menyedot sebagian udara dalam gelas tadi, sehingga ada sensasi gelas yang "tertarik" ke bibirku. 

Kayaknya, saat itu plot movie-nya lagi seru-serunya kali.. Soalnya, gelas tadi gak bergerak kemana-mana selama 5 menit. Baru deh, setelah plot-nya udah mulai turun lagi, gelas tadi kulepas dari bibirku.
Lama-lama aku merasakan hal yang aneh pada bibirku, berasa Angelina Jolie, kerasa panas dan bengkak. Setelah di-cek melalui cermin terdekat. Maka.. 
Maka...
Maka... (gak sanggup nerusin. Anggap saja kalian paham)


Efek dari "jeratan gelas" tadi itu setara dengan apa yang terjadi pasca "kerokan". Gara-gara tragedi itu, aku harus rela mengunci diri di rumah selama seminggu. Jadwal joging-alipomorphosisku, keteteran. Abis! bekasnya nggak ilang-ilang. Liat aja foto yang ada di samping itu! gambar itu diambil di H+3. Masih parah kan. Kalo' nggak terlalu jelas lihat gambar yang sudah di posterize level 4 (ujung bawah). Warna pink disekitar bibir, adalah area bengkak.

Kalian heran? sah-sah aja sih..
Ibukku aja gak habis pikir, anaknya yang udah kuliah masih bisa act konyol bin bodo kayak gitu.
Setelah sembuh ini (bekasnya bener-bener ilang di H+6), aku juga sependapat sama ibukku, Bener-bener gak habis pikir!

Compliment cs. Reinforcement

At » 23.02 // 0 Comments »
Memulai sesuatu, selalu menjadi topik yang begitu sulit bagi sebagian orang, dan aku –dengan yakin, menyatakan—tergabung di dalamnya. Begitu susahnya, sampai-sampai juga mempengaruhiku ketika membuat post pertama di blog ini. Karena menurut sebagian orang *lagi*, termasuk aku, awalan menentukan segalanya. Seperti halnya kemasan atau Judul Cerpen, lagu, film.
Terkadang motivasi untuk memulai-lah yang menjadi masalah. Kalian harus percaya, tanpa motivasi, manusia bukan apa-apa, dan tak bisa apa-apa.
Mengingatkanku pada salah satu mata kuliahku, Psikologi Humanistik, yang hari itu di isi oleh kuliah dari Prof. Dar. Terhitung dua pertemuan terakhir sebelum UAS. Beliau memberi kami sederetan pertanyaan dengan tajuk Questions to Self Awareness. Pertanyaan yang diajukan sangat sentimentil. Seperti Apa yang diinginkan dalam hidup?, Apa kekuatan dan kelemahanmu?, Motivasi apa yang membuatmu merasa senang?, dlsb. Sampai di pertanyaan tentang motivasi aku menjawab, bahwa motivasi yang membuatku senang adalah pujian. Jawaban kekanak-kanakan. Yeah! Whatever! Tapi aku punya penjelasan sendiri.
Di majorku, Psikologi, aku diajarkan pentingnya aspek reinforcement (penguat) dalam berbagai aspek, perkembangan, atmosfer kerja, sosial, ataupun pendidikan. Kalo’mau digambarin secara ‘gampang-gampangan’, reinforcement bisa saja di sejajarkan dengan pujian. Reinforcement sering kali dilakukan untuk membuat seseorang menjadi lebih intens melakukan hal yang dimaksud. Pujian, juga kurang-lebih berfungsi seperti itu. Sebagian besar dari kalian sepertinya tak bisa mengelak. Ketika kalian melakukan sebuah hal kecil. Barangkali menguncikan kamar teman kos kalian yang lupa mengunci kamarnya, atau sekedar menawarkan tisu kepada seorang penumpang pilek yang sedang duduk di samping kalian. Apa yang kalian rasakan, ketika hal kecil tadi dihargai.
“Aduh Nak, makasih tisunya!” Kata seorang ibu sambil tersenyum. “Sekolah di mana, Nak?”
Mungkin kalimat sesederhana itu. Bisa menimbulkan gejolak bangga yang begitu besar, muncul seketika dalam tubuh anda, apalagi ketika anda sedang tidak mengharapkannya. Sebesar itulah keajaiban pujian. Terutama, pujian dari seorang yang tak dikenal. Rasanya jauh lebih **Whhhmmh!** (greget).
Coba lakukan hal yang sama, pada salah satu temanmu. Katakan bahwa hari ini bajunya nampak begitu serasi, bisa juga kata-kata yang lain. Pokoknya sebuah kalimat positif. Setelah itu, perhatikan tingkah laku teman kalian. Kalian akan merasakan sendiri perbedaannya.
Butterfly effect!
Sebuah hal kecil bisa mengubah sesuatu yang sangat besar. Jangan terkejut, karena sebenarnya kalian sudah mengetahuinya sejak dulu, hanya belum menyadarinya.