My Writings. My Thoughts.
Gentleman's Ruins Out!
On » Sabtu, 21 Maret 2009 //
In »
bapak,
pacar,
rukun islam
Ditengah menurunnya jumlah cowok yang pantas diberi gelar "gentleman". dengan bangga menyatakan,
Bapakku, Satu dari GENTLEMAN yang tersisa

Sebenarnya cerita tentang beliau yang satu ini sudah kudengar beberapa tahun yang lalu, hanya saja belum pernah terpikir bagiku untuk menyuarakannya ke dunia.
Aku jadi lebih sering kepikiran tentang tipe cowok/pacar/calon suami/pendamping/dsb akhir-akhir ini. Mungkin mengingat kepalaku yang bakalan "mengganda" alias memasuki dasawarsa ke-2 tahun ini. Wih! kerasa cepet banget!
Dulu, sekitar SMP, ketika ditanya tipe cowok, pasti jawabanku nggak akan jauh-jauh dari morfologi putih, tinggi, rambut lurus, thin, yo-wis pokok'e sing ambu ngunu lah! Tapi ketika suatu ketika ibuku menceritakan bagaimana cara bapakku dulu mendekati beliau, aku merasa begitu cocok jika digambarkan dengan peribahasa kutu di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Bapakku yang selama ini nggak berhenti sliwar-sliwer (baca: berlalu-lalang) di dekatku, ternyata KEREN abis!
Pernah denger istilah electra complex? suatu fenomena yang umumnya terjadi pada masa phalic, dimana seorang anak perempuan memandang ayahnya sebagai figur ideal pasangan lawan jenisnya. Itu Aku! (walaupun masa phalic-ku udah lewat--lama banget!)
Bapakku meng-analogikan cara PDKT ke calon pendampingnya seperti halnya Rukun Islam.
Berikut analogi yang beliau rancang:
- Dua kalimat syahadat. Seperti halnya ketika seseorang menjadi muslim, ia harus mengucapkan dua kalimat syahadat. Begitu juga dalam memulai sebuah hubungan, harus ada statement pembukanya, yang dewasa ini sering digeneralisasikan sebagai proses "nembak".
- Tegakkan Sholat. Sholat adalah tiang agama. Para muslim diperintahkan sholat fardhu (wajib) sebanyak 5 kali sehari. Itu dilakukan terus menerus sepanjang hayat. Inti di poin ini adalah rutin/teratur. Semua hal bisa memudar, kata PETERPAN, "Tak Ada yang Abadi". jadi, rasa sayang/cinta/suka harus terus dipupuk. Tiang yang menjaga hubungan harus tetap tegak, memastikan bagunan di atasnya aman dari goncangan. Caranya? teratur mengunjungi (baca: ngapél) pasanganmu. (tapi yo gak perlu 5 kali sehari, Rek!)
- Berpuasa. Arti leksikalnya, menahan diri. Kalo' dihubungin sama dinamika pacaran, HINDARI MANUVER-MANUVER YANG NGGAK PENTING. Tahan diri! Kita harus punya batasan-batasan sendiri.
- Keluarkan Zakat. Tahu artinya? artinya kalo' pacaran jangan pelit-pelit! Njajan bareng pas keluar juga perlu, tapi juga nggak berlebihan. Seperti dalam aturan zakat, hanya 2,5% dari kekayaan kita.
- Yang terakhir, tapi bukan berarti akhir dari hubungan. Naik Haji (bila mampu). Seperti kartu death dalam susunan tarot arcana mayor, fase ini adalah akhir dari sebuah fase, untuk mengawali fase lainnya. Seperti yang dijelaskan di atas. Bagi umat Muslim, Naik haji hukumnya WAJIB, jika mampu. Nah, kalo' sudah merasa "mumpuni" maka segeralah menikah.
Indah kan? Aku sempet nggak habis pikir jika memandang bapakku yang selenge-annya Masya Allah! Ternyata punya filosofi sedalam itu. Respect-ku ke beliau jadi semakin besar dan dalam. Aku jadi ngebayangin, betapa bahagianya ibuku saat itu (sekarang makin lengket ae!) dan jadi berharap, sebahagiakah itu aku kelak? Punya pasangan yang tahu bagaimana memperlakukan pasangannya secara layak, merasa dihargai, tetapi tak berlebihan.
Cowok-cowok di luar sana, sudahkah kalian memiliki gagasan operasional untuk mencari pasanganmu? Kalo' belum, cara bapakku perlu diperhitungin loh!
My photos. Now you know me.
My lifestream. Stay updated with me.
Label
- bapak (1)
- Bumi (1)
- butterfly effect (1)
- caturpw (1)
- Earth (1)
- Earth Hour (1)
- foolday (1)
- gaga (1)
- gaza (1)
- Michael Heart (1)
- moviestar (1)
- pacar (1)
- Peduli (1)
- personal brand (1)
- Psikopop (1)
- rukun islam (1)
- yoris (1)








waahh, bagus bangett mba alf ! *tears*
sama, saya juga ndak nyangka loo ternyata pak endy pikirannya sedalam ini ! wkwkwkwk ... mantab ! ;D
Leave A Reply